Kangjeng Mas Ayu Tumenggung Kemala Winta
Karya ini memadukan elemen-elemen ikonik Indonesia dengan filosofi yang mendalam. Penggunaan Tugu Monas sebagai latar bukan tanpa alasan; ia menjadi simbol takdir sejarah dan kebanggaan akan karya anak bangsa. Dipadukan dengan motif batik yang didesain khusus, lukisan ini menggambarkan pergerakan bunga-bunga yang dinamis, mengikuti alur cerita yang terus berkembang.
Pusat dari karya ini adalah tujuh sosok ratu yang melambangkan tujuh sifat dasar manusia:
Melly menjelaskan bahwa para ratu ini terjebak dalam ambisi kekuasaan, saling mengadu, dan ingin mendominasi satu sama lain. Namun, dalam keheningan mereka, tersimpan kekuatan yang lebih besar. Keheningan, menurut Melly, justru menjadi senjata paling tajam untuk berkuasa—sebuah permainan catur sunyi di mana plot paling kejam tergarap.
Bagi Melly Kemala Winta, proses melukis bukanlah soal memenuhi target atau mengikuti standar baku. Ia membiarkan emosi dan intuisi memandu tangannya. Tidak jarang, ia harus mengubah total elemen lukisan di tengah proses karena adanya "daya tarik" atau bisikan energi yang menuntunnya.
Karya ini juga dilengkapi dengan elemen penjaga, yaitu burung merak yang melambangkan kemegahan dan pengawasan terhadap hasrat-hasrat para ratu, serta kepompong yang menjadi ciri khas karya Melly sebagai simbol filosofi feminitas yang baik.
Melly menekankan bahwa karya seni ini memiliki daya tariknya sendiri. Ia percaya bahwa lukisan ini tidak sekadar mencari pembeli, melainkan akan memanggil pemiliknya yang memiliki keterikatan energi.
"Skandal The Seven Queen" adalah bentuk dedikasi Melly untuk mengangkat keindahan, kemewahan, dan sejarah Indonesia ke dalam sebuah karya yang tak lekang oleh waktu. Ia berharap melalui karya ini, pesan tentang proses, perjuangan, dan kedewasaan di balik kecantikan dapat tersampaikan kepada para penikmat seni.