Kangjeng Mas Ayu Tumenggung Kemala Winta

Tujuh Penunggang Kuda, Rahasia, dan Perebutan Kuasa dalam Kanvas Melly Kemala Winta

Melly Kemala Winta, seorang pelukis senior dengan latar belakang dan kiprah yang kaya, kembali mengguncang ruang seni dengan gagasannya yang tajam. Melalui akun Instagramnya, @mellycolorfull, Melly tidak hanya memamerkan karya, tetapi juga memicu renungan lewat narasi puitis yang menyertai lukisan terbarunya, “Seri Scandal”.

Narasi yang ia bagikan sangat memikat:

“Seri Scandal, 7 penunggang kuda DIPADANG Zambrud. Dibawah sinar bulan hijau 7 penunggang kuda perempuan melaju membawa rahasia dan ambisi. Peti Emas terbuka menggoda menyala ditengah gelap. Menjadi simbol perebutan kuasa dan rahasia manusia misterius, indah, dan mengguncang. Mereka berpacu antara kuasa dan nurani.”

Teks ini bukan sekadar deskripsi, melainkan sebuah proklamasi artistik yang sarat makna. Ia membawa kita langsung ke inti persoalan kemanusiaan: kuasa, ambisi, rahasia, dan konflik nurani.

Menguak Mitos Tujuh Penunggang Kuda

Melly memilih angka tujuh dan simbol “penunggang kuda perempuan” untuk merangkai mitos kontemporer. Dalam berbagai tradisi, penunggang kuda sering melambangkan kedatangan, perubahan besar, atau bahkan malapetaka (seperti Empat Penunggang Kuda dalam Apokalips). Namun, Melly mengubahnya menjadi feminin—tujuh perempuan yang melaju di Padang Zambrud di bawah sinar bulan hijau.

Simbolisme ini menunjukkan pergeseran fokus: dari kehancuran maskulin menuju misteri dan kekuatan yang melekat pada perempuan, yang bergerak dalam lanskap sureal (Zambrud dan bulan hijau). Mereka membawa “rahasia dan ambisi,” menyiratkan bahwa kekuatan dan skandal seringkali dihela oleh dinamika tersembunyi, terutama yang berkaitan dengan perempuan yang memegang kendali.

Peti Emas: Simbol Perebutan Kuasa dan Godaan

Titik fokus lain adalah “Peti Emas” yang terbuka, menyala di tengah kegelapan. Peti ini adalah macguffin—objek yang menggerakkan plot. Ia jelas merupakan simbol kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terlarang. Keberadaannya yang “menggoda menyala” menunjukkan daya tarik abadi dari kekuasaan, yang mampu memicu “perebutan kuasa” dan mengungkap sifat asli manusia yang “misterius, indah, dan mengguncang.”

Dalam konteks sosial dan politik saat ini, lukisan Melly bisa dibaca sebagai kritik atau refleksi atas intrik kekuasaan, di mana ambisi seringkali mengalahkan etika. Scandal yang diangkat bukan hanya tentang skandal politik atau pribadi, melainkan skandal fundamental dalam diri manusia ketika dihadapkan pada godaan mutlak.

Pacuan Kuasa dan Nurani

Akhirnya, Melly menyimpulkan dengan konflik abadi: “Mereka berpacu antara kuasa dan nurani.” Ini adalah inti filosofis dari seri ini. Tujuh penunggang kuda perempuan tersebut, meskipun membawa ambisi, tetap berada dalam tarik ulur antara keinginan untuk berkuasa dan bisikan hati nurani.

Karya Melly Kemala Winta, seperti yang terungkap dari narasi “Seri Scandal” ini, mengundang kita untuk merenung: sejauh mana ambisi kita melampaui nurani? Dan dalam perebutan “Peti Emas” dunia ini, apakah kita menjadi sosok yang misterius, indah, atau justru yang mengguncang dalam artian negatif?

Seri ini menjanjikan sebuah eksplorasi visual yang berani, membuktikan Melly Kemala Winta sebagai seniman yang tidak hanya melukis keindahan, tetapi juga melukis pertanyaan esensial tentang kemanusiaan. Kita menantikan perwujudan visual dari narasi yang begitu kuat ini di atas kanvasnya.

https://kemalawinta.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*