“Scandal?”: Ketika Melly Kemala Winta Mendefinisikan Ulang Tabiat Manusia Lewat Kanvas
JAKARTA — Di balik ketelitiannya sebagai Bendahara Umum Wanita Persahi, Melly Kemala Winta menyimpan keberanian yang berbeda: keberanian seorang seniman yang memilih bertanya melalui warna dan simbol. Dalam perbincangan hangat di sela peringatan HUT ke-64 Wanita Persahi, ia membuka makna di balik seri lukisan terbarunya yang kini menjadi perbincangan di kalangan penikmat seni internasional—sebuah judul yang provokatif sekaligus reflektif: “Scandal?”

Bagi sebagian orang, kata skandal identik dengan pengkhianatan atau aib. Namun bagi Melly, kata itu adalah pintu masuk untuk membaca ulang tabiat manusia. Melalui seri “Scandal?”, ia menghadirkan figur “Tujuh Ratu”—metafora dari tujuh karakter manusia: dendam, keserakahan, kesombongan, dan berbagai sisi lain yang sering tersembunyi namun nyata dalam kehidupan sosial.
“Konteksnya adalah tujuh karakter manusia yang berbeda-beda. Ini komunikasi antara manusia dan lingkungannya yang memicu pertanyaan,” ungkapnya.
Di tangan Melly, skandal bukan sensasi, melainkan refleksi. Ia mengajak penikmat seni untuk berani melihat sisi diri sendiri—apa yang layak diungkapkan, dan apa yang harus dikendalikan agar tidak melukai ruang orang lain.
Seni, Logika, dan Etika
Sebagai bagian dari Wanita Perhimpunan Sarjana Hukum Indonesia (Wanita Persahi), Melly sepenuhnya memahami konsekuensi dari sebuah judul yang tajam. Namun justru di situlah letak keberaniannya: keberanian yang terukur.
Baginya, karya seni tetap harus berdiri dalam koridor logika dan etika. Ia tidak melihat seni dan hukum sebagai dua dunia yang berseberangan, melainkan sebagai dua pilar yang saling menguatkan.
“Saya melukis dengan jiwa. Ada getaran yang berkomunikasi langsung dengan penontonnya,” tuturnya tentang proses kreatif yang ia jalani.
Keberhasilannya menembus galeri-galeri elit internasional menjadi bukti bahwa gagasan yang kuat—meski provokatif—dapat diterima ketika disampaikan dengan kecerdasan dan integritas.
Komunikasi Dua Arah Lewat Kanvas
Seri “Scandal?” kini telah memasuki karya keenam dan ketujuh. Setiap lukisan bukan sekadar objek visual, tetapi medium dialog. Melly tidak menawarkan jawaban mutlak, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah.
Sebagai pelukis senior di lingkungan Wanita Persahi, ia menghadirkan dimensi baru: bahwa seorang sarjana hukum juga mampu mengekspresikan nilai-nilai kemanusiaan melalui estetika. Seni menjadi bahasa yang lentur—mampu menyampaikan pesan tanpa harus menggurui.
Pesan untuk Generasi Muda: Berani dan Percaya Diri
Di akhir wawancara, Melly menitipkan pesan bagi para pelukis muda yang sedang menapaki jalan kreatifnya. Baginya, seni membutuhkan keberanian yang konsisten.

“Pantang mundur, maju terus. Harus percaya diri dan yakin,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa kesuksesan tidak lahir dalam satu langkah besar, melainkan melalui proses yang dijalani tahap demi tahap. Pelukis muda, menurutnya, perlu berani melihat dunia dari sudut pandang baru dan menciptakan dobrakan yang membuat jiwa berpikir lebih energik sekaligus bijaksana.
Melalui “Scandal?”, Melly Kemala Winta tidak sekadar melukis—ia mengajak kita berdialog dengan sisi terdalam manusia. Dan di sanalah seni menemukan maknanya: sebagai cermin, sebagai pertanyaan, dan sebagai keberanian untuk jujur.








