Kangjeng Mas Ayu Tumenggung Kemala Winta

Scandal of the Seven Queens: Ketika Keindahan Menjadi Strategi, Diam Menjelma Bahasa

Di dunia seni, tidak semua skandal lahir dari kegaduhan. Ada skandal yang tumbuh dari keheningan, dari tatapan yang tak selesai diterjemahkan, dari goresan warna yang menyimpan rahasia. Melly Kemala Winta—pelukis senior yang dikenal dengan intuisi visualnya yang tajam—menulis di akun Instagram-nya sebuah kalimat yang menggelitik kesadaran estetika kita:

“Di sini keindahan menjadi strategi.
Diam menjadi bahasa.
Dan skandal… bukan aib,
melainkan kekuatan.
Scandal of the Seven Queens.

Kalimat itu bukan sekadar caption. Ia seperti pintu kecil yang membuka kamar besar bernama interpretasi. Dan seperti biasa, seni Melly tidak meminta kita percaya—ia meminta kita merasa.

Keindahan sebagai Strategi

Bagi sebagian orang, keindahan hanyalah perhiasan visual. Bagi Melly, keindahan adalah taktik menghadapi dunia yang kadang terlalu lugas, terlalu keras, terlalu menghakimi. Keindahan menjadi cara perempuan menavigasi struktur sosial yang seringkali menuntut, membatasi, bahkan menundukkan.

Keindahan dalam konteks Seven Queens bukan kosmetik; ia adalah diplomasi estetika.

Diam sebagai Bahasa

Dalam karya-karya seni rupa, diam sering jauh lebih berisik dibandingkan kata-kata. Diam membuka ruang bagi penonton untuk mengisi makna. Diam melahirkan dialog sunyi antara kanvas dan batin.

Diam adalah bentuk keberanian yang tidak meledak, tapi mengakar.

Skandal sebagai Kekuatan

Istilah “skandal” biasanya dikaitkan dengan aib, gosip, dan kehancuran reputasi. Namun Melly membalik kamus itu. Dalam dunia seni, skandal bisa berarti keberanian menolak pakem, menantang norma, dan membiarkan kontroversi membuka percakapan baru.

Skandal para Seven Queens bukan tentang siapa salah dan siapa benar. Ia tentang siapa berani.

Tujuh Ratu, Tujuh Wajah Perlawanan

Walau belum terurai secara eksplisit, konsep Seven Queens terasa seperti metafora tujuh energi feminin: yang lembut, yang pemarah, yang rapuh, yang cerdik, yang pemberontak, yang penyembuh, yang pendiam. Mereka tidak berdiri dalam satu garis, tetapi dalam satu lingkaran: saling melengkapi, saling menantang.

Dalam dunia tempat perempuan dibingkai secara sempit—harus begini, tidak boleh begitu—skandal kadang adalah satu-satunya bahasa kemerdekaan.

Mengapa Seni Harus Mengganggu?

Karena seni yang aman hanya menjadi dekorasi. Sedangkan seni yang menggugah akan merobek kenyamanan penonton, memaksa mereka berpikir ulang, atau bahkan meninjau ulang keyakinan mereka sendiri.

Seni Melly Kemala Winta, termasuk dalam proyek Scandal of the Seven Queens, tidak sekadar menghadirkan warna—ia menghadirkan pergolakan.


Penutup: Ketika Ratu-Ratu Itu Berkumpul

Ada saat ketika seni tidak lagi bertanya “apakah ini indah?” melainkan “mengapa ini penting?”
Dan dalam karya Melly, keindahan, diam, serta skandal berdiri sejajar sebagai kekuatan naratif.

Tujuh ratu itu—entah siapa pun mereka—adalah cermin bagi kita.
Bahwa setiap manusia menyimpan skandalnya masing-masing.
Dan tidak semua skandal pantas disembunyikan.
Sebagian justru harus dirayakan.

https://kemalawinta.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*