Ibu: Ratu Tanpa Mahkota, Telapak Kaki Surga
Doa yang Menggetarkan Hati
“Doaku untukmu Ibu. Terimakasih sudah mengajarkanku tentang banyak hal dan indahnya kesabaran. Allahummagfirlaha warhamha waafiha wafu anha…” tulis Melly Kemala Winta, pelukis senior, mengenang ibundanya yang telah berpulang. Doa itu sederhana, tapi menyentuh: penghormatan seorang anak kepada sosok yang disebutnya “ratu tanpa mahkota, namun bertelapak kaki surga.”
Kata-kata Melly seolah mewakili banyak anak di dunia: kehilangan seorang ibu selalu meninggalkan ruang hampa. Namun lebih dari itu, doa yang dituliskannya adalah cermin penghormatan, ikrar bakti, sekaligus warisan cinta yang abadi.
Ibu: Guru Kesabaran dan Kehidupan
Ibu adalah pendidik pertama dalam hidup kita. Dari pangkuannya, seorang anak mengenal arti kasih sayang, dari ketabahannya seorang manusia belajar tentang kesabaran. Islam menegaskan, doa anak untuk orang tua adalah amal yang tidak terputus. Bahkan Rasulullah SAW bersabda, “Surga berada di bawah telapak kaki ibu.”
Ungkapan itu bukan sekadar simbol, melainkan penegasan: keridaan Allah terikat pada keridaan ibu. Maka tidak heran bila doa anak menjadi hadiah terbaik, bahkan setelah sang ibu berpulang.
Modernitas yang Membuat Kita Lupa
Pertanyaannya: apakah nilai luhur itu masih kita jaga? Di tengah arus modernitas, banyak anak terjebak dalam kesibukan karier, prestise, dan ambisi pribadi. Ibu sering hanya hadir dalam ucapan formal di hari besar. Lebih ironis, penghormatan yang seharusnya hadir saat mereka masih hidup justru baru benar-benar diwujudkan setelah kepergian.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan keluarga, melainkan cermin krisis moral yang kita hadapi: generasi yang unggul dalam teknologi, tetapi kerap lalai dalam berbakti.
Berbakti Bukan Hanya Kata-kata
Doa penting, tapi doa saja tidak cukup. Ia harus berjalan seiring dengan tindakan nyata: menemani ibu di masa senja, menjaga kesehatannya, mendengar keluhnya, atau sekadar menyapa dengan tulus. Membaca “Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shagira” tidak boleh berhenti sebagai ritual lisan, tapi harus menjadi praksis dalam kehidupan sehari-hari.
Berbakti bukanlah retorika, melainkan aksi kecil yang konsisten. Sebab cinta seorang ibu bukan hanya dikenang, melainkan harus dibalas dengan kasih yang nyata.
Ajakan yang Tak Boleh Ditunda
Doa Melly adalah pengingat keras bagi kita semua. Jangan menunggu kehilangan untuk mendoakan. Jangan menunggu perpisahan untuk memuliakan. Jika hari ini masih ada kesempatan, maka sekaranglah waktunya: merawat, menghargai, dan mendoakan ibu dengan sepenuh hati. Sebab ibu memang ratu sejati, meski tanpa mahkota. Dan di telapak kakinya, surga itu nyata.