Lukisan sebagai Ruang Ngobrol: Membaca Scandal 7 Ratu Karya Melly Kemala Winta
Di tangan Melly Kemala Winta, lukisan tak lagi berdiri sebagai benda visual yang menuntut decak kagum semata. Ia menjelma menjadi ruang—ruang ngobrol, ruang curhat, ruang kritik, bahkan ruang diam yang bermakna. Dalam karyanya Scandal 7 Ratu, Melly dengan sengaja tidak menawarkan jawaban. Ia justru mengundang pertanyaan.
“Scandal 7 Ratu adalah undangan untuk membaca yang tak terucap, lukisan ini tidak memberi jawaban tetapi menjadi ruang ngobrol. Karena seni hidup ketika dipertanyakan bersama,” ujar Melly.
Pernyataan ini penting, sebab ia membalik cara kita memosisikan seni. Lukisan tidak lagi hadir sebagai teks final yang harus dipahami “dengan benar”, melainkan sebagai percakapan terbuka. Di hadapan kanvas, penonton tidak sedang diuji pengetahuannya, tetapi diajak masuk ke ruang dialog—dengan karya, dengan pelukis, dan dengan dirinya sendiri.

Dalam Scandal 7 Ratu, yang bekerja bukan hanya warna, komposisi, atau simbol, melainkan ketegangan makna. Ada hal-hal yang sengaja dibiarkan tak selesai, tak tuntas, dan tak diberi keterangan. Di situlah seni bernapas. Lukisan menjadi hidup justru ketika ia memancing tafsir, perdebatan, bahkan kegelisahan.
Melly tampaknya sadar betul bahwa seni yang terlalu menjelaskan justru berisiko mematikan daya hidupnya. Dengan menahan diri dari memberi jawaban, ia memberi ruang bagi penonton untuk jujur pada pengalaman masing-masing. Setiap orang datang dengan latar, luka, ingatan, dan kepekaan yang berbeda—dan semuanya sah untuk hadir di depan kanvas.
“Semoga setelah ngobrol ini, kita pulang dengan cara pandang baru bahwa lukisan bisa jadi ruang curhat, ruang kritik, dan ruang diam yang bermakna,” lanjut Melly.
Di sini, lukisan tidak diposisikan sebagai menara gading estetika, tetapi sebagai ruang bersama. Ia bisa menjadi tempat mencurahkan kegelisahan sosial, menyimpan kritik yang tak selalu aman diucapkan, atau sekadar menjadi jeda sunyi di tengah kebisingan dunia. Diam dalam lukisan bukan kekosongan, melainkan ruang untuk mendengar lebih dalam.
Pendekatan ini terasa relevan di zaman ketika segalanya dituntut serba cepat, serba jelas, dan serba instan. Melly justru menawarkan perlambatan. Ia mengajak kita duduk, melihat, dan berbincang—tanpa kewajiban menyimpulkan apa pun.
Pada akhirnya, Scandal 7 Ratu bukan soal tujuh ratu, bukan pula soal skandal dalam pengertian sensasional. Ia adalah peristiwa pertemuan. Pertemuan antara karya dan penonton, antara yang terucap dan yang disimpan, antara bunyi dan diam.
Dan mungkin, di situlah seni menemukan kehidupannya yang paling jujur: ketika ia dipertanyakan bersama, bukan diselesaikan sendiri.