Kangjeng Mas Ayu Tumenggung Kemala Winta

Dari Ruang Hukum ke Ruang Seni: Jejak Perempuan dalam Menjaga Merah Putih

Kemerdekaan Indonesia yang kini memasuki usia ke-80 tahun adalah anugerah besar yang diwariskan para pendiri bangsa. Namun, merdeka tidak berhenti pada terbebasnya bangsa dari penjajahan. Merdeka juga berarti bagaimana kita, generasi hari ini, mengisi ruang-ruang kehidupan dengan karya, nilai, dan semangat kebersamaan.

Perjalanan bangsa selalu diwarnai oleh peran perempuan. Tidak hanya dalam lingkup keluarga, tetapi juga dalam ruang hukum, sosial, budaya, hingga seni. Salah satu sosok yang merepresentasikan peran itu adalah Melly Kemala Winta—seorang pelukis yang juga mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Humas Wanita PERSAHI.


Perempuan dalam Ruang Hukum

Wanita PERSAHI, organisasi yang berdiri sejak 1961 di Yogyakarta, telah lama menjadi wadah bagi sarjana hukum wanita dan istri sarjana hukum. Dengan lebih dari 2.500 anggota, organisasi ini memiliki komitmen kuat untuk memperjuangkan kedudukan perempuan dan anak di mata hukum, sekaligus memberi kontribusi nyata bagi kesejahteraan sosial.

Dari penyuluhan hukum, seminar, bakti sosial, hingga kerja sama lintas lembaga, Wanita PERSAHI terus membangun kesadaran bahwa kemerdekaan sejati hanya bisa terwujud jika masyarakat paham akan hak dan kewajiban hukumnya. Di sinilah peran Melly menjadi penting: menghadirkan komunikasi yang hidup, membumikan pesan organisasi, dan menjembatani misi besar PERSAHI dengan masyarakat luas.


Perempuan dalam Ruang Seni

Namun, kiprah Melly tidak berhenti di sana. Sebagai pelukis otodidak yang karyanya pernah meraih penghargaan nasional, ia percaya bahwa seni adalah bahasa universal untuk menyampaikan pesan kemanusiaan. Setiap lukisan baginya adalah refleksi, setiap goresan kuas adalah doa, dan setiap warna adalah harapan.

Jika hukum memberi batas dan keadilan, maka seni memberi makna dan keindahan. Dua ruang inilah yang dipadukan Melly: ruang hukum yang rasional, dan ruang seni yang emosional. Keduanya berpadu dalam satu tujuan—menjaga merah putih tetap hidup dalam hati bangsa.


Merawat Merdeka Bersama

Dalam usia ke-80 tahun kemerdekaan, Indonesia bagaikan kanvas besar. Para pendiri bangsa telah menggoreskan dasar-dasarnya dengan perjuangan dan pengorbanan. Kini giliran kita melanjutkan lukisan itu dengan karya dan persatuan. Perempuan—baik sebagai ibu, sahabat, pelaku seni, maupun pegiat hukum—memegang peran penting dalam memberi warna pada perjalanan bangsa.

Sebagaimana Melly melukis dengan cahaya inspirasi, demikian pula setiap kita bisa mengisi ruang kemerdekaan ini dengan semangat, cinta, dan kontribusi nyata. Merdeka bukan hanya milik sejarah, tetapi milik kita semua yang berani menjaganya.


Dirgahayu Republik Indonesia ke-80! Semoga kita terus merawat merah putih, tidak hanya di bendera yang berkibar, tetapi juga di hati dan karya setiap anak bangsa.

https://kemalawinta.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*