Tujuh Ratu dan Politik Keheningan dalam Seni Lukis
Diam sebagai Gerbang Tafsir dalam Seni
Ada teks yang tidak meminta untuk dijelaskan, melainkan untuk direnungkan. Status Melly Kemala Winta di Instagram—“Di lembah cahaya untuk memilih Diam”—bekerja dengan cara seperti itu. Diam di sini bukan kekosongan, bukan pula penarikan diri, melainkan keputusan estetik dan politis. Dalam seni lukis, diam sering kali menjadi ruang paling padat makna: tempat simbol bekerja tanpa suara.

Tujuh Ratu: Figur Perempuan sebagai Subjek Kekuasaan
“Tujuh Ratu berdiri tak saling tunduk namun saling membaca.” Kalimat ini langsung menempatkan perempuan bukan sebagai objek pandang, tetapi sebagai subjek yang sadar, waspada, dan berdaulat. Mereka tidak berkompetisi secara frontal, namun juga tidak tunduk satu sama lain. Relasi yang terbangun adalah relasi pembacaan—tentang kekuatan, kelemahan, dan kemungkinan.
Keindahan yang Membungkus Ambisi dan Rahasia
Melly dengan tegas menolak reduksi perempuan menjadi sekadar simbol keindahan. Para Ratu bukan “cantik”, melainkan kuat. Ambisi dan rahasia tidak ditampilkan secara telanjang, tetapi dibungkus oleh estetika. Inilah karakter seni yang matang: keindahan tidak mematikan ketegangan, justru menyamarkannya.
Sayap Merak dan Bahasa Warna Kekuasaan
Di bawah sayap merak yang memantulkan emas, safir, rubi, dan zamrud, kita tidak sedang berhadapan dengan ornamen dekoratif. Warna-warna ini adalah bahasa simbolik tentang legitimasi, status, dan pengaruh. Merak, dengan seluruh paradoksnya—keindahan, kesombongan, dan kewaspadaan—menjadi metafora kekuasaan yang sadar akan dirinya sendiri.
Persekutuan Sunyi dalam Dunia Seni
“Lahirlah persekutuan yang tak pernah diakui tetapi tak pernah dibantah.” Kalimat ini terasa sangat dekat dengan realitas dunia seni. Relasi antara seniman, kurator, kolektor, institusi, dan pasar jarang bekerja melalui pengumuman terbuka. Ia hidup dalam kesepahaman diam, dalam jejaring yang terbentuk melalui selera, reputasi, dan momentum.
Kekuasaan yang Diperebutkan, Bukan Diwariskan
Dalam narasi ini, kekuasaan tidak hadir sebagai hak turun-temurun. Ia diperebutkan melalui pesona, strategi, dan kesunyian yang tajam. Keheningan digambarkan seperti belati tersembunyi—tidak terlihat, namun menentukan. Dalam seni lukis kontemporer, sering kali yang paling berpengaruh bukan yang paling vokal, melainkan yang paling mampu mengatur arah wacana.
Mahkota sebagai Otoritas Simbolik
Mahkota yang diangkat para Ratu bukan untuk menjadi cantik. Ia adalah simbol kendali: atas arah angin, keputusan, dan bisikan dunia. Mahkota menjadi penanda otoritas simbolik—kemampuan menentukan makna, membentuk persepsi, dan mengarahkan pembacaan publik terhadap karya dan seniman.
Seni Lukis sebagai Arena Perebutan Makna
Dalam kerangka ini, seni lukis tampil sebagai arena perebutan makna, bukan sekadar ruang visual. Setiap karya adalah pernyataan diam tentang posisi, sikap, dan keberpihakan. Apa yang ditampilkan sama pentingnya dengan apa yang disembunyikan.
Perempuan, Keheningan, dan Kendali Narasi
Melalui metafora Tujuh Ratu, Melly Kemala Winta menawarkan cara pandang baru terhadap perempuan dalam seni: bukan sebagai hiasan narasi, tetapi sebagai pusat gravitasi simbolik. Keheningan menjadi alat kendali, bukan tanda ketidakberdayaan.
Penutup: Martabat Seni dalam Sunyi yang Sadar
Pada akhirnya, memilih diam di “lembah cahaya” bukanlah bentuk menyerah. Ia adalah kesadaran penuh untuk membaca sebelum berbicara, menguasai sebelum mengumumkan. Di sanalah seni lukis menemukan martabatnya—ketika keindahan tidak berisik, namun menentukan arah. (redaksi Kemala Winta)