Kangjeng Mas Ayu Tumenggung Kemala Winta
Filosofi Mellya Kemala Winta: Memori Maestro Nasirun, Takdir, dan Seni Melawan Arus
Mellya Kemala Winta on Serendipity, the Spirit of Maestro Nasirun, and Artistic Defiance
Dikenal luas lewat palet warnanya yang lembut sekaligus bercahaya, Meli memandang setiap sapuan kuas bukan semata urusan estetika visual, melainkan sebuah percakapan batin. Saat mengenang kebersamaannya dalam satu pameran bersama almarhum Maestro Nasirun di Jakarta Design Center (JDC), Meli melihat cerminan kerendahhatian seorang seniman besar. Baginya, komitmen Nasirun terhadap akar budaya dan laku spiritual 'zakat budaya' menjadi pengingat bahwa seni yang bermartabat selalu berakar pada kearifan tanah air.
Eksplorasi artistik Meli tercermin nyata dalam karyanya, Ratu Merah Melukis Tujuh Cahaya. Karya ini bukan lukisan biasa; ia memadukan tenunan benang emas, jahitan kulit sapi asli, hingga instalasi tujuh cermin akrilik yang merefleksikan spektrum jiwa manusia: amarah, cinta, pemberontakan, kepemimpinan, bahagia, dan luka. Pemilihan material akrilik yang aman dan berdaya tahan tinggi membuktikan visinya tentang karya yang abadi dan nyaman dinikmati lintas generasi. Mulai dari sosok ratu hingga figur astronaut yang sedang menenun, motif tenun bagi Meli adalah perlambang ikhtiar manusia yang tekun merajut waktu demi menghadirkan kebaikan bagi sesama.
Pernah dinobatkan sebagai Juara 1 Nasional Desain Motif Batik se-Indonesia pada tahun 2007, Meli sempat menepi demi mengasuh buah hatinya hingga beranjak dewasa. Kini, ia kembali dengan kebebasan penuh. Dari mendobrak kanvas dengan menyandingkan misteri UFO bersama kuntum bunga yang lembut hingga bereksperimen dengan kilau resin, Meli membuktikan bahwa karya sejati harus memiliki 'greget' batin. Kemerdekaan baginya sederhana: hidup dengan penuh kenyamanan, kedamaian hati, dan rasa syukur yang tak pernah putus.
Celebrated for her signature cocoon motifs and luminous, pastel-infused palette, Mellya approaches painting not merely as an act of visual expression, but as a quiet, sacred dialogue. Reflecting warmly on exhibiting alongside the late Indonesian maestro Nasirun at the Jakarta Design Center (JDC), she speaks of his profound humility and cultural grounding. Nasirun’s practice of 'cultural tithe' (zakat budaya) and unpretentious devotion to tradition deeply resonated with her own belief that authentic Indonesian art must carry the warmth and roots of its homeland.
Mellya’s boundary-pushing spirit comes alive in pieces like The Red Queen Painting Seven Lights. Merging hand-stitched cowhide, woven gold threads, radiant resin, and seven acrylic mirrors, the artwork invites viewers to confront their own inner landscape: love, wrath, rebellion, leadership, joy, and sorrow. By replacing fragile glass with thoughtfully stitched acrylic, she ensures safety while crafting an heirloom meant to endure across generations. Whether depicting an ancient queen or a modern astronaut at the loom, weaving in her visual language symbolizes the enduring human endeavor to weave time itself with purpose and grace.
After clinching First Place in Indonesia’s National Batik Motif Design Award in 2007, Mellya chose to pause commercial momentum to dedicate herself to raising her family. Today, with her children grown, she returns to the studio with renewed vigor and uncompromising vision. Boldly juxtaposing gentle blossoms against sci-fi UFO silhouettes, she crafts pieces that possess unmistakable vitality and heart. For Mellya, artistic freedom is neither noise nor rebellion; it is the serenity of living authentically, embracing the unexpected, and holding deep gratitude for every brushstroke of existence.