Bagaimana manusia membayangkan masa depan ketika bumi tak lagi seperti sedia kala? Lewat tajuk pameran After Earth, perupa senior Melly Kemala Winta menyodorkan sebuah tawaran visual yang sarat perenungan lewat lukisan bertajuk "Akar Semesta".
Karya ini dibuka bukan dengan sebuah pernyataan dogmatis, melainkan sebuah tanya yang menggantung: apa sebenarnya akar semesta itu? Jawaban yang dihadirkan Melly bersifat intuitif sekaligus mistis: "Ratu menjawab, ikuti akarnya." Goresan batang-batang vertikal dan sulur yang merambat di atas kanvas bukan sekadar lanskap pepohonan biasa, melainkan metafora jejaring kosmik yang menembus batas-batas waktu.
Keunikan narasi Melly terletak pada ujung perjalanannya. Alih-alih menyajikan kehancuran pasca-apokaliptik yang muram, di ujung akar ia justru menautkan tiga anasir kontras: siluet piring terbang (UFO), konstruksi jembatan, dan kuncup bunga yang mekar.
- UFO: Menandai misteri peradaban kosmik dan lompatan teknologi yang melampaui batas nalar manusia.
- Jembatan: Melambangkan ikhtiar manusia yang tak berkesudahan untuk merajut keterhubungan antardimensi.
- Bunga: Merepresentasikan denyut vitalitas dan daya lenting alam yang senantiasa menolak punah.
"Karya ini adalah harapan bahwa imajinasi adalah satu-satunya tanah yang tidak pernah mati."
Melly mengingatkan bahwa ketika materi duniawi dapat lapuk tergerus usia zaman, bentang kesadaran dan imajinasi manusia tetap menjadi tanah humus abadi—tempat benih peradaban dan asa baru terus bersemi.
Informasi Pameran
Tajuk: After Earth
Karya Pilihan: Akar Semesta
Perupa: Melly Kemala Winta
Tempat: Balai Budaya Jakarta
Periode Pameran: 12–19 September 2026 (Pembukaan: Sabtu, 12 September 2026)