HUT ke-81 RI: Merah Putih dalam Goresan, Indonesia dalam Perjalanan
Setiap 17 Agustus, Indonesia tidak sekadar memperingati sebuah tanggal. Kita kembali menengok perjalanan panjang sebuah bangsa—tentang keberanian untuk merdeka, keteguhan untuk bertahan, dan harapan untuk terus melangkah menuju masa depan.
Pada 17 Agustus 2026, Republik Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan. Delapan puluh satu tahun adalah perjalanan yang panjang. Di dalamnya terdapat begitu banyak perubahan, pencapaian, tantangan, sekaligus pekerjaan rumah yang belum selesai.
Dalam suasana itulah kemerdekaan semestinya tidak berhenti sebagai seremoni. Kemerdekaan harus terus dihidupkan melalui karya.
Bagi Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Melly Kemala Winta, SE, S.Pd., MH, kemerdekaan menemukan salah satu bentuknya melalui seni. Sebagai pelukis senior dan seniman otodidak, Melly menunjukkan bahwa keberanian berkarya dapat menjadi cara seseorang memberi makna kepada kehidupan sekaligus kepada bangsanya.
Indonesia Adalah Kanvas yang Terus Berubah
Indonesia hari ini adalah sebuah negeri yang sedang bergerak cepat.
Masyarakat menghadapi perubahan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan, tantangan ekonomi, perubahan sosial, persoalan lingkungan, hingga kebutuhan untuk menjaga kebudayaan di tengah arus globalisasi.
Namun sebagaimana sebuah lukisan, Indonesia tidak pernah selesai dalam satu goresan.
Ada warna yang cerah, ada pula warna yang gelap. Ada keberhasilan yang patut dirayakan, tetapi ada persoalan yang membutuhkan keberanian untuk diperbaiki. Semuanya menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa.
Dalam perspektif seorang pelukis, justru keberagaman warna itulah yang membuat sebuah karya memiliki kehidupan.
Pemikiran tersebut sejalan dengan perjalanan Melly Kemala Winta. Ia menemukan panggilan dalam dunia seni pada 2005, meskipun tidak lahir dari latar belakang pendidikan seni formal. Keputusan untuk mengikuti panggilan jiwa itu kemudian membawanya pada perjalanan kreatif yang panjang.
Pada 2007, namanya semakin kuat setelah meraih juara pertama Lomba Desain Motif Batik Tradisional Wastra Nusantara Award.
Prestasi tersebut bukan hanya pencapaian personal. Ia juga memperlihatkan bagaimana kreativitas, keberanian dan kecintaan terhadap budaya Indonesia dapat bertemu dalam sebuah karya.
Kemerdekaan Berarti Berani Menjadi Diri Sendiri
Salah satu pesan penting yang selalu ditekankan Melly adalah keberanian mengikuti panggilan jiwa.
Ia pernah berada pada posisi sebagai seseorang yang tidak memiliki latar belakang seni formal. Namun ketika panggilan untuk melukis datang, ia memilih untuk menjalaninya.
Pesan ini relevan bagi Indonesia hari ini.
Di tengah dunia yang semakin kompetitif, generasi muda sering dihadapkan pada tuntutan untuk mengikuti arus. Kesuksesan terkadang diukur hanya dari jabatan, penghasilan atau popularitas.
Padahal, sebuah bangsa juga membutuhkan manusia-manusia yang berani menciptakan sesuatu.
Pelukis, penulis, musisi, ilmuwan, pengusaha, guru, petani, pekerja kreatif, maupun profesional dari berbagai bidang memiliki ruang yang sama untuk mengisi kemerdekaan: berkarya dengan kemampuan terbaiknya.
Melly membuktikan bahwa perjalanan yang bermakna tidak selalu dimulai dari jalan yang sudah tersedia.
Kadang seseorang justru harus berani membuka jalannya sendiri.
Dari Batik hingga Kanvas: Merawat Identitas Indonesia
Kecintaan Melly terhadap seni juga memiliki keterkaitan kuat dengan kekayaan budaya Nusantara.
Prestasinya dalam desain motif batik tradisional menjadi salah satu penanda bahwa seni tidak dapat dipisahkan dari identitas bangsa.
Di tengah derasnya budaya global, Indonesia memiliki pekerjaan besar untuk menjaga agar generasi mendatang tidak hanya mengenal budaya sendiri sebagai sesuatu yang berada di museum.
Batik, seni lukis, tari, musik, sastra, arsitektur tradisional, kuliner, hingga berbagai ekspresi budaya Nusantara harus terus menemukan ruang baru.
Budaya tidak harus selalu tampil dalam bentuk yang lama. Ia dapat berkembang, bereksperimen dan berdialog dengan zaman tanpa kehilangan akar.
Di sinilah kreativitas seniman memiliki peran penting.
Goresan yang Tidak Takut Berbeda
Dalam perjalanan artistiknya, Melly terinspirasi oleh dua maestro besar, Vincent van Gogh dan Affandi. Namun inspirasi bukan berarti menyalin.
Seorang seniman harus menemukan bahasa visualnya sendiri.
Melly memilih jalan tersebut melalui eksplorasi warna, bentuk, simbol dan berbagai elemen kreatif. Bahkan angka 7 menjadi salah satu unsur yang hadir dalam perjalanan artistiknya, mengajak penikmat karya untuk melihat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar keindahan visual.
Di sinilah seni memiliki kekuatan yang unik.
Sebuah lukisan tidak selalu harus memberikan jawaban. Terkadang ia justru mengajukan pertanyaan.
Tentang kehidupan. Tentang manusia. Tentang alam. Tentang perjalanan. Tentang harapan.
Dan mungkin, tentang Indonesia itu sendiri.
Indonesia Hari Ini Membutuhkan Lebih Banyak Keberanian untuk Berkarya
Memasuki usia kemerdekaan ke-81, Indonesia membutuhkan optimisme yang tidak kosong.
Optimisme harus disertai keberanian untuk bekerja, berinovasi, mengoreksi kekurangan dan menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan para pendiri bangsa.
Kita tidak boleh hanya bertanya, apa yang sudah diberikan Indonesia kepada kita?
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Bagi seorang seniman, jawabannya mungkin sebuah lukisan.
Bagi seorang guru, jawabannya adalah ilmu.
Bagi seorang jurnalis, jawabannya adalah kebenaran dan informasi yang mencerdaskan.
Bagi seorang pengusaha, jawabannya adalah lapangan pekerjaan.
Bagi generasi muda, jawabannya dapat berupa inovasi dan keberanian menciptakan masa depan.
Dan bagi setiap warga negara, jawabannya sederhana: menjaga Indonesia tetap menjadi rumah bersama.
Melukis Masa Depan
Melly Kemala Winta percaya bahwa perjalanan adalah bagian dari karya seni.
Pemikiran itu memiliki makna yang kuat ketika ditempatkan dalam konteks perjalanan Indonesia.
Bangsa ini juga sedang melukis masa depannya.
Setiap kebijakan, setiap inovasi, setiap pendidikan yang diberikan kepada anak bangsa, setiap karya seni, setiap kepedulian terhadap sesama, bahkan setiap tindakan kecil untuk menjaga lingkungan, sesungguhnya adalah satu goresan pada kanvas besar bernama Indonesia.
Tidak semua goresan akan sempurna.
Tetapi sebuah lukisan tidak dinilai dari satu sapuan kuas. Ia dilihat sebagai keseluruhan.
Begitu pula Indonesia.
Delapan puluh satu tahun kemerdekaan bukanlah garis akhir. Ia adalah satu babak baru dalam perjalanan panjang bangsa untuk menjadi semakin maju, adil, berdaulat dan bermartabat.
Merah Putih dan Panggilan untuk Terus Berkarya
Pada akhirnya, semangat kemerdekaan bukan hanya tentang mengingat perjuangan masa lalu. Ia adalah keberanian untuk menjawab tantangan hari ini dan menciptakan masa depan.
Semangat itulah yang tercermin dalam perjalanan Melly Kemala Winta: berani mengikuti panggilan jiwa, tidak takut mengeksplorasi kreativitas, dan menerima setiap perjalanan sebagai bagian dari karya kehidupan.
Dari sebuah kanvas, kita dapat belajar bahwa warna yang berbeda tidak harus saling menghapus. Justru ketika ditempatkan dengan tepat, perbedaan warna dapat membentuk keindahan.
Begitu pula Indonesia.
Beragam suku, budaya, agama, bahasa, pemikiran dan latar belakang bukanlah alasan untuk terpecah. Keragaman adalah kekuatan yang membuat lukisan Indonesia begitu istimewa.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Mari terus melukis Indonesia dengan karya, keberanian, kreativitas dan cinta.
Karena kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya warisan yang kita terima.
Kemerdekaan adalah karya yang harus terus kita isi.