Lukisan sebagai Ruang Ngobrol: Membaca yang Tak Terucap dalam Scandal 7 Ratu
Undangan yang Tidak Memaksa
Dalam dunia yang kian riuh oleh kepastian dan kesimpulan instan, Melly Kemala Winta—pelukis senior dengan jejak panjang dalam seni rupa Indonesia—justru mengajak kita berhenti sejenak. Melalui Scandal 7 Ratu, ia tidak menawarkan jawaban, apalagi penjelasan final. Yang ia buka adalah sebuah undangan: undangan untuk membaca yang tak terucap.

“Scandal 7 Ratu adalah undangan untuk membaca yang tak terucap,” tulis Melly di akun Instagramnya, @mellycolorfull. Kalimat ini bukan sekadar keterangan karya, melainkan pernyataan sikap artistik. Bahwa lukisan, dalam pandangannya, bukan alat komunikasi satu arah, melainkan ruang dialog—ruang ngobrol.
Ketika Penonton Menjadi Bagian dari Karya
Di hadapan kanvas Scandal 7 Ratu, penonton tidak diposisikan sebagai penerima pesan yang pasif. Tidak ada panah makna yang mengarah tunggal dari pelukis ke publik. Yang ada justru ruang terbuka, tempat tafsir bertumbukan, rasa saling menguji, dan pertanyaan saling dipantulkan.
Setiap orang datang dengan pengalaman, luka, ingatan, dan prasangkanya sendiri. Di titik itulah lukisan berhenti menjadi objek, dan mulai berfungsi sebagai peristiwa.
Seni yang Hidup Karena Dipertanyakan
“Karena seni hidup ketika dipertanyakan bersama.”
Kalimat ini terasa seperti kunci untuk membaca keseluruhan karya Melly. Seni yang selesai didefinisikan, barangkali telah kehilangan denyutnya. Sebaliknya, seni yang dipertanyakan—diperdebatkan, diragukan, bahkan disalahpahami—justru sedang bernapas.
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat karya terus bergerak, melampaui ruang pamer, melintasi waktu, dan menetap di benak siapa pun yang bersedia berdialog dengannya.
Judul sebagai Umpan, Bukan Kesimpulan
Scandal 7 Ratu hadir dengan judul yang provokatif. Ia menggoda rasa ingin tahu, namun menolak untuk dijelaskan secara harfiah. Skandal siapa? Ratu yang mana? Konflik apa?
Alih-alih memberi jawaban, judul ini justru bekerja sebagai pintu masuk—sebuah umpan intelektual dan emosional—yang mendorong penonton untuk bertanya lebih jauh, bukan berhenti pada permukaan.
Ruang Curhat, Ruang Kritik, Ruang Diam
Dalam refleksinya, Melly menyebut bahwa lukisan bisa menjadi ruang curhat, ruang kritik, dan ruang diam yang bermakna. Tiga fungsi ini menjelaskan kedalaman relasi antara karya dan penikmatnya.
Ruang curhat, karena ada emosi yang tak selalu menemukan bahasa dalam percakapan sehari-hari.
Ruang kritik, karena seni kerap menjadi cara paling jujur untuk menyentil realitas tanpa perlu berteriak.
Dan ruang diam yang bermakna, karena tidak semua hal perlu diucapkan—sebagian cukup dirasakan.
Pulang dengan Cara Pandang Baru
“Semoga setelah ngobrol ini, kita pulang.”
Pulang, dalam kalimat Melly, bukan sekadar meninggalkan ruang pamer. Pulang adalah kembali ke diri sendiri dengan sesuatu yang berubah: cara pandang yang bergeser, kesadaran yang bertambah, atau pertanyaan baru yang terus mengendap.
Di tengah kecenderungan seni yang sering dibingkai secara elitis dan kaku, Scandal 7 Ratu justru menawarkan kehangatan dialog. Ia tidak memaksa untuk dimengerti, tetapi mengajak untuk hadir.
Dan mungkin, di situlah kekuatan sejatinya: lukisan ini tidak memberi jawaban, karena hidup sendiri jarang menyediakan jawaban yang rapi. Yang ada hanyalah ruang ngobrol—tempat kita bertanya bersama, lalu pulang dengan makna yang kita temukan sendiri.