Kangjeng Mas Ayu Tumenggung Kemala Winta

Merah Membara: Bukan Sekadar Lukisan, Tapi Nyala Semangat yang Tak Pernah Padam

Oleh: Redaksi MKW


Ketika seorang seniman senior seperti Mellya Kemala Winta menutup pameran lukisannya dengan kalimat, “Lukisan merah membara usai ditampilkan. Namun semoga semangatnya tetap menyala. Dihati setiap peniat seni,” itu bukan sekadar catatan penutupan pameran. Itu adalah deklarasi filosofis tentang apa yang seharusnya diwariskan oleh sebuah karya seni kepada publiknya.

Pameran lukisan dengan tema Merah Membara

Lukisan “Merah Membara,” seperti namanya, pastilah representasi intensitas, gairah, dan energi yang tak terhindarkan. Mellya benar: sebuah kanvas, sekuat apa pun pesonanya saat dipajang, pada akhirnya harus kembali ke studionya, atau berpindah tangan. Perjalanannya sebagai objek fisik telah “tuntas.” Namun, dampak sesungguhnya dari seni tidak pernah terletak pada pigmen atau bingkainya, melainkan pada transfer emosi—perpindahan nyala api dari seniman ke penikmat.

Menghidupkan Energi Setelah Tirai Ditutup

Dalam hiruk pikuk pameran seni kontemporer, sering kali kita terjebak pada penilaian teknis, harga jual, atau ketenaran sang kreator. Kita lupa esensi dasar dari proses kreatif: spirit yang terukir di dalamnya.

“Merah Membara” tidak hanya mengagumkan karena komposisi warnanya, tetapi karena ia sukses menjadi medium. Ia telah menunaikan tugasnya, yaitu memantik api di mata “setiap peniat seni.” Siapa itu peniat seni? Mereka adalah kolektor, kritikus, mahasiswa yang terinspirasi, atau bahkan orang awam yang mendadak merasakan dorongan untuk mencipta, berjuang, atau sekadar hidup lebih bersemangat setelah melihatnya.

Inilah kekuatan sejati dari karya agung: ia melampaui batas-batas galeri. Begitu lukisan itu disimpan, energi merah membara yang dipancarkannya harus telah menyebar.

Tugas Baru Sang Penikmat Seni

Seni, dalam pandangan ini, bukanlah barang pasif yang hanya kita tatap. Seni adalah bahan bakar. Dan tugas yang diberikan Mellya kepada kita, para peniat seni, adalah tugas yang berat: menjaga api itu tetap menyala.

Di masa kini, di mana kita dikelilingi oleh berita yang melelahkan dan kelesuan kolektif, semangat “Merah Membara” adalah pengingat bahwa energi dan gairah adalah aset yang harus dipertahankan. Lukisan itu mengajarkan bahwa meskipun pertunjukan telah berakhir (atau masalah telah selesai), esensi dan gairah di balik perjuangan itu tidak boleh hilang.

Hal ini berlaku tidak hanya bagi para seniman yang berjuang menciptakan karya berikutnya, tetapi bagi siapa pun. Energi “Merah Membara” adalah dorongan bagi seorang penulis untuk memulai bab baru, bagi seorang pebisnis untuk bangkit dari kegagalan, atau bagi seorang aktivis untuk terus memperjuangkan idealismenya.

Warisan yang Melampaui Kanvas

Ketika kita berterima kasih atas “tatapan dan dukungan” terhadap lukisan yang kini usai ditampilkan, kita harus memahami bahwa apresiasi terbaik kita bukanlah tepuk tangan, melainkan manifestasi semangat yang sama dalam tindakan kita sehari-hari.

Warisan sejati Mellya Kemala Winta bukanlah lukisan yang indah, tetapi api yang ia transfer kepada publik. Jika setiap peniat seni kini membawa pulang semangat “merah membara” itu—semangat pantang menyerah, gairah total, dan intensitas dalam mencipta atau berjuang—maka karya itu telah mencapai kesuksesan yang melampaui lelang atau ulasan kritikus.

Merah membara telah menuntaskan perjalanannya sebagai objek. Kini, ia harus memulai perjalanan barunya sebagai jiwa dalam diri kita. Kita, sebagai peniat seni, memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa nyala api ini tidak pernah redup.

https://kemalawinta.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*